kegiatan selama bulan ramadhan di ponpes ar rahman

  Suasana di lorong asrama putri selalu terasa lebih hidup ketika bulan Ramadhan di Pondok Pesantren Ar-Rahman; aroma mukena yang baru dicuci beradu dengan wangi tumis kangkung dari dapur santriwati, menciptakan simfoni rindu yang hanya dipahami oleh mereka yang sedang berjuang.

Zahra sedang sibuk menyetrika jilbabnya di pojok kamar saat Alya, sahabat karibnya, masuk dengan wajah sedikit pucat. Di tangan Alya ada sebuah kitab kuning tebal yang mulai lecek di bagian sudutnya.

"Zah, kepalaku agak pening. Kayaknya karena tadi terlalu lama mengaji di bawah terik matahari," keluh Alya sambil merebahkan diri di kasur tipis mereka.

Zahra meletakkan setrikanya dan mendekat. Ia mengambil minyak kayu putih dari dalam loker. "Itu namanya tarbiyah, Al. Ar-Rahman sedang menguji sabarmu. Sini, biar kupijat sebentar."

Sambil memijat pelan pelipis Alya, keduanya bercerita tentang betapa beratnya menahan kantuk saat ngaji pasaran (pengajian kilat) setelah subuh. Namun, di balik rasa lelah itu, ada kebahagiaan yang sulit dijelaskan saat mereka bisa khatam satu kitab bersama-sama.

"Kamu ingat tahun lalu?" tanya Alya pelan. "Kita menangis di belakang aula karena rindu masakan Ibu saat buka puasa pertama."

Zahra tertawa kecil. "Sekarang kita tidak menangis lagi, kan? Karena di sini, Ibu Kantin dan Ustazah sudah seperti ibu sendiri. Ar-Rahman itu artinya Yang Maha Pengasih, Al. Dia tidak mungkin membiarkan kita kesepian di jalan menuntut ilmu."

Saat bedug maghrib bertalu, keduanya bergegas menuju lapangan tengah. Di sana, ratusan santriwati duduk melingkar di atas tikar pandan. Mereka berbagi sebutir kurma dan segelas air hangat dengan tawa yang tulus. Rasa pening Alya hilang seketika, berganti dengan hangatnya persaudaraan yang hanya bisa ditemukan di balik tembok pesantren ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar